Wanita-wanita Suku Dani

Seharusnya malam ini saya fokus untuk mempelajari hal baru bernama unified hamiltonian structure of water waves and ships, tapi apa daya, bagi saya permasalahan tentang manusia dan budaya memang jauh lebih menarik daripada engineering. Tidak sengaja di sebuah forum backpacking seorang anggota menautkan foto tentang suku dani dan lembah baliem, lalu dibawahnya ada seseorang yang berkomentar : “wah, wanita suku dani ya, saya pernah membaca sedikit, kasihan sekali nasib mereka”. Hmmm… saya jadi tertarik untuk menyelidiki lebih jauh tentang wanita-wanita suku dani ini dan membuang jauh literatur engineering ini. :p

Keberadaan wanita dalam pranata sosial di Indonesia sungguh menarik. Dari wanita-wanita yang dijunjung dan ditinggikan seperti dalam budaya Minangkabau, hingga pergundikan yang merajalela dalam kerajaan-kerajaan jawa terjadi di Indonesia.

Tapi saya menemukan suatu hal yang menarik yang terjadi di Suku Dani. Tempat tinggal Suku Dani terletak di Desa Wosilimo, 27 km dari Wamena, Papua. Suku Dani adalah satu dari beberapa suku yang menghuni sebuah ruang seluas 45 kilometer persegi di Lembah Baliem, Papua. Selayaknya mayoritas suku-suku di Indonesia, suku ini menganut faham patrilineal. Kehidupan rumah tangga suku dani di topang oleh wanita. Wanitalah yang mengurus pertanian, perternakan dan menghidupi keluarganya. Para lelaki di Suku Dani rata-rata bertugas berburu pada musimnya dan berperang. Lelaki-lelaki di Suku Dani diperbolehkan untuk menikahi lebih dari satu wanita tetapi dilarang untuk incest (mengawini yang sesuku). Inilah sebabnya sering terjadi perang antar suku di Lembah Baliem, yaitu memperebutkan wanita.

Sekarang kita coba lihat dari sudut pandang wanita. Terlahir menjadi wanita di Suku Dani berarti menjadi pekerja tanpa henti sejak kecil. Kemudiaan saat remaja, mereka akan menunggu ‘dibeli’ seharga 20 ekor babi untuk ‘bekerja’ kepada suaminya, saat mereka hamil pun ternyata mereka wajib harus bekerja di ladang. Atas nama adat, wanita-wanita Suku Dani ini harus mematuhi semua itu. Jika mereka mempunyai anak kembar, si Ibu harus menghanyutkan anak kembar yang terlahir sebagai adik di sungai karena dianggap sebagai anak setan. Tidak sedikit wanita Suku Dani yang pada akhirnya bunuh diri karena tidak mampu menanggung beban hidupnya. Biasanya, wanita suku dani akan bunuh diri dengan cara memberikan pemberat ke kakinya dan melompat ke sungai yang dalam sehingga jasadnya tidak muncul lagi ke bumi, menghilang tanpa jejak di bumi. Cara bunuh diri ini telah turun temurun diyakini oleh wanita Suku Dani sebagai jalan akhir yang dipilih.

Sementara itu, apabila salah seorang anggota keluarga meninggal, wanita Suku Dani harus menunjukkan dedikasinya dengan prosesi potong jari, bila jari sudah habis maka sebagian daun telinga akan dipotong. Tradisi bernama Iki Pakek ini merupakan simbol dari bela sungkawa dan kesedihan terhadap kerabat yang meninggal. Mungkin agar rasa sakit karena ditinggalkan orang-orang terkasih disimbolkan ikut hilang seiring dipotongnya salah satu ruas jari tersebut.

Tapi budaya tak bisa dinilai dalam takaran benar-salah atau lebih baik yang ini daripada yang itu. Bicara tentang nilai dan norma adalah bicara tentang menghargai perbedaan yang ada tanpa perlu saling melenyapkan. Maka, ketimbang memandang budaya Suku Dani ini sebagai budaya yang kejam, saya lebih memilih untuk mencoba mempelajari nilai-nilai apa yang tersembunyi dari ritual-ritual ini. Bagaimanapun juga, ritual-ritual ini membuat wanita-wanita Suku Dani menjadi salah satu wanita-wanita paling kuat dan paling nrimo yang saya kenal. Ah, akan ada titik dimana benar salah tak lagi penting.

Cerita ini juga dimuat di http://aseptia.wordpress.com/2013/06/30/wanita-wanita-suku-dani/