Surga di Kepulauan Derawan

 

Sulit rasanya untuk mengenang perjalanan ke Derawan, tanpa tersenyum dan menghela nafas. Sebab, meski saya hanya menghabiskan waktu 2 hari 1 malam saja di sana, liburan ke Derawan telah memberikan saya suatu pengalaman indah. Kenangan manis dalam pelukan pantai berpasir putih bersih dan laut bergradasi biru-hijau yang luar biasa bening, snorkeling bersama ubur-ubur….

Saya pergi ke Derawan bulan Oktober lalu, meski perjalanan ini telah direncanakan jauh-jauh hari sebelumnya, tepatnya sejak Maret! Saat itu, saya mendapat tiket promo Citilink Jakarta – Balikpapan hanya seharga Rp 79.000 saja, yang saya langsung booking untuk perjalanan pulang pergi. Saya berangkat bersama tiga orang kawan dari Jakarta, yang sama-sama memegang tiket Citilink.
Saya mendengar tentang Derawan dari cerita teman-teman dan dari internet. Kebetulan, gayung bersambut, Citilink sedang mengadakan promo, jadi kita buru-buru booking Jakarta – Balikpapan – Jakarta, agar bisa jalan-jalan ke Derawan. Sambil menunggu waktunya terbang, saya dan teman-teman menyusun itinerary.

Tujuh bulan kemudian, datanglah Oktober. Kami berangkat ke Balikpapan, dan di sana sudah ada 5 teman lain yang menunggu. Kemudian, kami berdelapan meneruskan perjalanan ke Tarakan dengan maskapai lain, karena (sayang sekali) Citilink belum memiliki rute ke Tarakan.

Dari Tarakan, kami beramai-ramai menuju Kepulauan Derawan dengan menaiki perahu milik nelayan. Saat-saat mengarungi laut ini benar-benar tidak terlupakan, karena perahunya kecil saja, paling-paling hanya berkapasitas 12 orang saja. Cuaca saat itu sedang mendung dan berpotensi hujan, jadi ombak besarnya terasa sekali mengombang-ambingkan kami. Kami merasa diaduk-aduk, dan perjalanan tersebut memakan waktu selama 4 jam. Bayangkan….

Tapi ketika sampai di Derawan, semua kelelahan terbayar. Melihat view yang demikian indah dan dramatis, rasa capek selama perjalanan langsung menguap begitu saja.

Di Derawan, salah satu pemandangan yang paling memukau adalah matahari terbenam. Keindahannya seperti gambar-gambar yang ada di wall paper komputer. Detik-detik matahari terbenam di cakrawala samudera sungguh mencengangkan. Subhanallah bagus sekali.

Sunset di Derawan terasa lebih romantis. Saat itu cuaca sedikit mendung, warna gelapnya terkena sinar matahari, sehingga langit menjelma lukisan abstrak.

Tidak hanya itu, momen matahari terbit juga tak kalah memukau. Di Derawan, kita bisa menikmati matahari tenggelam dan terbit di satu tempat. Untuk melihat matahari terbit, kita tinggal melangkahkan kaki ke ujung dermaga.

Malam harinya kita menginap di sebuah penginapan. Saya lupa nama penginapannya, yang jelas sangat seru karena penginapan ini berupa rumah kayu di atas laut dan di bawahnya kita bisa melihat ikan-ikan berenang dan kadang-kadang penyu menampakkan dirinya. Tapi ketika kami jalan-jalan ke pantai untuk melihat penyu yang sedang bertelur, kami justru tak bisa menemukan mereka.

Esok harinya, kami siap menjelajahi Kepulauan Derawan mengikuti jadwal tour yang sudah disiapkan pihak travel. Kami jalan-jalan di pantai yang bersih, bahkan saking bersihnya kami bisa melihat jejak kepiting yang bertelur. Kepiting yang membuat sarang.

Hari itu, agenda kami adalah mengelilingi tiga pulau yaitu Pulau Maratua, Pulau Kakaban dan Pulau Sangalaki. Kami snorkeling di Maratua, yang air lautnya jernih sampai bisa melihat sampai ke dasarnya. Kami bisa melihat ikan barakuda, dan terumbu karang yang bagus sekali. Bahkan menurut cerita teman yang sudah pernah ke Bunaken, taman laut di Kepulauan Derawan ini jauh lebih bagus dibandingkan Bunaken! Yang menarik, ketika snorkeling di Maratua, banyak sekali lion fish sehingga kami haus berhati-hati, karena duri ikan ini beracun.

Snorkeling di Kakaban juga sangat berkesan karena kami ditemani ubur-ubur. Ubur-ubur ini bisa dipegang secara langsung dan tidak beracun, walaupun agak sedikit gatal ketika terkena kulit.

Di Kakaban, ternyata ada kejutan lain menanti. Begitu kita melangkah ke dalam pulau, kita akan disambut sebuah danau yang sangat indah. Danau ini berair asin. Di sini benar-benar menyenangkan dan entah mengapa suasananya membuat saya enggan pulang. :D
Pulau terakhir yang kami kunjungi adalah Pulau Sangalaki. Kami main-main di pantainya, dan di pulau ini ada konservasi penyu. Jadi kami akhirnya sempat menyaksikan penyu yang baru menetas. Yay!

Meski hanya dua hari di Derawan, liburan di pulau ini telah meninggalkan kesan yang mendalam. Kami puas mengeksplorasi pantai dan lautnya, apalagi ketika di Maratua, lautnya biru sekali dan saat terkena sinar matahari, lautan terlihat seperti hamparan kristal.

Kelak saya selalu menceritakan kisah ini kepada teman-teman, dan mereka semua selalu penasaran ingin datang ke Derawan. Semoga kalian yang membaca kisah ini juga merasa penasaran dengan keindahan Derawan!

Ayo, pergi ke Derawan!