Pengalaman Pertama Naik Pesawat Terbang

Gara-gara bekerja sebagai kru film, saya bisa naik pesawat untuk pertama kalinya, yaitu dengan Citilink!

Selalu ada yang pertama buat semua orang. Dan pengalaman pertama saya terbang dengan pesawat adalah bersama Citilink! Rasanya deg-degan, tapi seru dan tak terlupakan. Apalagi pada saat itu, saya terbang ke Balikpapan untuk syuting film layar lebar di pedalaman Kalimantan!

Sebagai kru di sebuah rumah produksi, saya sudah banyak terlibat dalam produksi film sejak tahun 2008. Saya bisa berhari-hari berada di lokasi syuting, bahkan sampai di luar kota, seperti ke Bali, Yogya dan Bandung. Tapi memang, saya baru berkesempatan naik pesawat terbang ketika tahun 2010 saya terlibat dalam produksi film layar lebar berjudul “Tiga Pejantan Tanggung” yang syutingnya dilakukan di Kalimantan selama 13 hari.

Jujur, saya sempat tegang ketika berada di dalam pesawat! Yah, namanya juga baru pertama kali naik pesawat. Tapi ternyata begitu berada di dalam kabin pesawat Citilink, hati saya langsung merasa tenang dan nyaman, karena suasana di dalam kabin yang sangat menyenangkan. :)

Tapi begitu Citilink mendarat sampai di Balikpapan, rupanya petualangan belum berakhir. Dari Balikpapan bersama sekitar 30-an kru yang lain kami meneruskan perjalanan ke Samarinda. Dari Samarinda, kami menyewa hotel, tapi syuting dilakukan di pedalaman hutan dengan jarak sekitar dua jam dari pusat kota. Dan kami syuting selama 13 hari nonstop, dengan hanya 1 kali libur.

Selama di lokasi syuting, tentu banyak pengalaman yang tak terlupakan buat saya. Salah satunya adalah ketika kami melintasi Sungai Mahakam yang lebar sungainya membuat saya takjub. Karena terbiasa dengan pemandangan Sungai Ciliwung yang keruh dan tidak indah, saya selalu terkenang dengan sungai ini. Inilah sungai paling lebar, paling dalam, dan paling deras yang pernah saya lewati, meski banyak eceng gondoknya. :D

Selain sungai, selama syuting di hutan, saya juga senang dengan pemandangan pohon-pohon besar yang hijau dan rimbun, serta berbagai binatang yang saya lihat disana seperti ular, kura-kura dan monyet-monyet kecil. Tapi saya kebetulan tidak melihat adanya orangutan, hanya ada perahu tongkang yang hilir mudik di sungai sambil mengangkut batu bara.

Namun, tentu saja selain suka-nya, ada duka-nya juga. Hal ini terjadi ketika kami menempati salah satu rumah adat yang dijadikan setting film. Istri si pemilik rumah sempat marah-marah ketika kami masuk ke kamarnya tanpa izin, padahal kami sudah mendapatkan izin untuk menggunakan rumah itu. Rupanya istri pemilik rumah itu meminta izin khusus kalau kami ingin masuk ke kamar pribadinya,. Bahkan dia sempat mengancam kalau kami akan dipenggal segala karena sudah melanggar tradisi lokal. :(

Untungnya orang itu hanya menggertak saja. Tidak ada kejadian apa-apa sampai syuting selesai, meski ulahnya sempat membuat kami bête. Selain bête, karena cukup lama kami di Kalimantan, kami juga sempat mengeluh dan merasa kesal.

Tapi, semua orang disana berkata bahwa setelah kami kembali ke Jakarta, kami akan segera merindukan Kalimantan. Dan ternyata mereka benar, begitu pesawat Citilink mengantar kami kembali ke Jakarta, kami segera merasa rindu untuk bisa mengunjungi hutan Kalimantan lagi.

Saya tidak akan keberatan untuk terbang bersama Citilink lagi, sebab pengalaman pertama saya bersama Citilink cukup berkesan. Pramugarinya ramah, tiketnya tidak mahal, pelayanannya baik dan tepat waktu.

Foto: koleksi pribadi dan www.balikpapan.go.id